Home UKM Sandal Buatan Kampung Cipiung Terkenal Hingga Australia

Sandal Buatan Kampung Cipiung Terkenal Hingga Australia

309
0

Ada sekitar 20 UKM atau industri rumahan di Kampung Cipicung yang dapat memproduksi sandal. Dengan adanya industri rumahan yang memproduksi sandal, masyarakat Kampung Cipicung, Desa Tugujaya, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikamlaya sangat terbantu.

Perekonomian masyarakat pun terdorong dengan adanya industri rumahan tersebut. Bahkan, jika produksi sandal lagi sepi, warung sembako dan makanan pun terkena dampaknya. Terjadi penurunan omzet pada warung-warung yang ada di sekitar Kampung Cipicung. Artinya, daya beli masyarakat Kampung Cipicung sedikitnya dipengaruh oleh omzet industri rumahan yang memproduksi sandal.

Salah satu industri rumahan di Kampung Cipicung membuat sandal bermerek Ziolla dan Ashen. Dua merek tersebut dapat dijumpai di Pasar Jatinegara, Jakarta.

Sebenarnya masih banyak merek-merek sandal lainnya yang berasal dari Kampung Cipicung. Biasanya sandal yang diproduksi oleh industri rumahan ini dipasarkan hingga ke Jakarta, Bogor dan Bekasi.

Pemilik industri rumahan sandal Ziolla dan Ashen, Irfan mengatakan, masyarakat Kampung Cipicung banyak yang terbantu dengan adanya industri kecil rumahan. Semakin banyak industri rumahan maka semakin banyak lapangan pekerjaan. Secara otomatis membantu perekonomian warga sekitar.

Perekonomian warga sekitar dipengaruhi oleh omzet industri sandal rumahan. Sebab, bahan dasar untuk membuat sandal juga ada yang dibuat perorangan oleh warga sekitar. Jadi, ketika banyak pembeli yang memesan sandal, maka banyak pula industri sandal rumahan yang membeli sebagian bahan-bahan dasar dari warga sekitar. Hal ini membuat perekonomian masyarakat hidup dan saling mendukung satu sama lain.

Lebih dari belasan industri kecil tersebar di sekitar Desa Tugujaya. Sementara, industri yang memproduksi sandal merek Ziolla dalam sehari rata-rata dapat memproduksi 200 pasang sandal.

Jumlah produksi biasanya disesuaikan dengan pesanan. Jika pesanan sedang banyak maka produksi pun akan banyak. Beberapa industri kecil ini biasanya hanya melayani pesanan dari pemborong.

Harga satu kodi sandal Ziolla dan Ashen Rp 270 ribu sampai Rp 290 ribu. Harga biasanya disesuaikan dengan bentuknya. Bentuknya sendiri tidak ada yang tetap, tergantung tren yang lagi berkembang saat itu.

Kalau ada bentuk sandal yang lagi tren maka semua industri sandal yang ada di Kampung Cipicung memproduksi bentuk yang sama.

Terkenal Hingga Australia

Industri kecil yang memproduksi sandal ini, tidak terlalu dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Namun, ketika harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi mahal, industri sandal banyak yang mengalami penurunan omzet.

Saat harga BBM tahun lalu sempat melambung tinggi, bahan baku untuk membuat sandal pun menjadi sangat mahal. Setelah bahan baku naik meski harga BBM telah turun, harga bahan baku tidak akan turun lagi.

Pepen Wahyu Suparli, warga Kampung Cipicung menceritakan, sekitar tahun 1980 Kampung Cipicung sudah cukup terkenal. Menurutnya, yang membuat Kampung Cipicung terkenal karena ada usaha kecil dan menengah yang memproduksi sandal. Sehingga, masyarakat mengenalnya dengan sebutan Sandal Cipicung.

Pada awal tahun 1980, perajin sandal di Kampung Cipicung hanya memproduksi sandal kelom. Seiring perkembangan zaman, para pengrajin tidak lagi memproduksi kelom. Kini mereka memproduksi sandal untuk laki-laki dan perempuan dengan bahan dasar hampir semuanya plastik.

“Dulu tahun 1980 banyak warga Cipicung yang mendadak jadi bos karena ada pembeli sandal dari Australia,” kata Pepen,

Perajin sandal di industri rumahan ini tidak menggunakan mesin berat. Mereka hanya menggunakan keterampilan tangan. Sol yang terbuat dari plastik untuk alas sandal paling bawah dibeli dari masyarakat yang memproduksinya. Begitu pula dengan spons dan imitasi yang menjadi alas bagian atas sandal.

Kemudian, alas sandal bagian atas yang terbuat dari spons dan imitasi disatukan dengan mamil. Ukuran sandal disesuaikan sesuai pesanan. Alat pengukurnya menggunakan kayu berbentuk kaki manusia.

Spons yang sudah dipasangi mamil kemudian diolesi lem bakar sebelum direkatkan dengan sol. Setelah diolesi, sandal harus di panaskan dengan panggangan untuk membuat lem bakar bereaksi. Barulah spons sandal direkatkan dengan sol. Setelah direkatkan, sandal langsung siap pakai.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here